“Kalau kalian lihat ke sebelah kiri, kalian akan melihat
tempat dimana pertempurannya terjadi”
Kelas 6 yang dipandu Ibu Hamilton berhenti sebentar dan
melihat lahan kosong tersebut. Kalimat dari ibu guru tersebut seperti menjadi angin
lalu saja. Elang berekor merah terbang berputar diatas langit.
Calvin melihat elang tersebut hingga hewan tersebut
menghilang dari pandangan. Ia lalu perlahan berjalan menjauh ke daerah yang
sedikit berlumpur.
“…titik balik dari perang yang sudah terjadi. Kita tidak
boleh lupa pengorbanan hebat dari orang-orang yang telah gugur…”
Sekilas sesuatu yang putih tertutup debu menarik perhatian
Calvin. Ia lalu sedikit membungkuk untuk melihat lebih jelas.
“…usaha terakhir. Sekelompok masyarakat yang bersenjatakan dengan
barang apapun yang bisa mereka ambil…”
Calvin lalu mengambil kayu dan membersihkan debu tanah
yangsudah mongering tersebut. Bentuk seperti lubang mata dan hidung kemudian
muncul.
“…dengan berani melawan kumpulan makhluk mengerikan tersebut…”
Calvin bahkan hampir tidak mendengar suara gurunya lagi. Ia
menggunakan kayu tersebut untuk menghilangkan tanah yang mengeras dari lubang
mata tengkorak tersebut, dan mulutnya. Ia belum siap memberitahu siapapun
tentang penemuannya. Kalau ia beritahu, benda tersebut akan diambil oleh komite
sejarah dari Perang Besar dan diberi label lalu ditaruh di suatu tempat entah
dimana. Untuk saat ini, hanya ia yang tahu, rahasia ini hanya miliknya. Ia lalu
memasukkan jarinya di mulut tengkorak yang terbuka untuk membersihkan debu
tanah yang tersisa.
Kemudian mulut tersebut menutup dengan cepat. Calvin kaget
dan menarik tangannya. Beberapa anak membalik badan dan melihat kearah Calvin
dengan penasaran. Ia lalu berdiri dan memasukkan tangannya ke saku celananya.
Mereka lalu melihat kedepan lagi dan memperhatikan ceramah membosankan itu lagi.
“Terima kasih kepada kerja keras dari orang-orang di tempat
bersejarah ini ratusan tahun yang lalu, hari ini kita bebas dari serangan
zombie. Tapi jangan sampai kita lalai, jangan sampai hal mengerikan itu terjadi
lagi. Tempat selanjutnya adalah Pusat Penggalian, dimana kita belajar bagaimana
cara artifak dari tempat pertempuran bisa kita ambil dengan aman”
Kelas tersebut mengikuti ibu guru pemandu dari belakang.
Calvin tetap menaruh tangannya di saku celana. Darah menetes dari jarinya. Ia
mencoba mengabaikan sensasi aneh yang menjalar di tangannya.
Elang merah tersebut kembali terbang diatas mereka, bersuara
dengan lengkingan panjang di langit yang biru.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar