By Reddit
User : megmatthews20
Oh empuknya,
aku mengoleskan bumbu keatas steak itu hingga permukaannya berkilau terkena
lampu panggung. Prosinya harus benar-benar tepat. Jika bumbunya terlalu banyak,
rasanya takkan pas dan itu adalah hal terakhir yang aku inginkan. Aku menatap
kearah para juri yang berjalan mengelilingi kami dengan papan penilaian serta
terlihat mencetang kotak-kotak yang tak terlihat oleh kami. Ketika aku
meletakkan dagingku kedalam oven, aku menghapus keringat dari alisku dan
melirik kompetitorku yang lain.
Mrs. June tampak
berantakan,terlihat panik ketika ia mengelapkan tangan ke celemeknya. Aku
merasa kasihan padanya. Ia tampak tak bisa mengatasi stresnya. Keluarganya ada
di kursi penonton, berusaha menyemangatinya. Salah seorang anaknya terlihat
menangis.
Kemudian ada
Mr. Alverson yang mengigit bibirnya cukup kuat hingga tampaknya akan berdarah .
Ia tampak berkonsentrasi dengan potongan daging di hadapannya. Aku kemudian
menjadi cemas dengan kenyataan dimana aku sudah menaruh steakku didalam oven,
sementara yang lain masih berusaha menyempurnakannya.
Terdengar
teguran para juri yang mengatakan waktu kami semakin menipis dan menyuruh semua
orang untuk menaruh masakan mereka kedalam oven. Mrs. June mulai menangis dan
Mr. Alverson tanpa ia sadari menyumpah dengan keras. Aku merasakan kelegaan.
Kami
menanti, detik-detik dan menit terasa seperti berjam-jam. Akhirnya, masakanku
matang juga. Aku mengeluarkannya dari oven dan dengan penyesuaian akhir,
seperti melumurinya dengan minyak zaitun dan menambahkan daun kemangi. Dengan
jantung berdegup tak karuan, aku membawa nampanku ke meja juri, lantai berderit
ketika kakiku menginjaknya. Akhirnya , yang lain selesai juga.
Kami berdiri
disana, berderet bertiga, semuanya menahan nafas ketika juri mulai mengiris
tiap steak kami damencicipinya, sebari berbisik satu sama lain dan menandai
papan penilaian mereka. Akhirnya kepala juri beridi, menghadap ke semua orang
di kursi penonton.
“Keputusan
telah dibuat untuk ketiga finalis. Pemenang ronde ini adalah Mr. Alverson.”
Aku hampir
melompat kaget ketika Alverson berteriak dengan kegirangan.
“Dan Mr.
Farrel!”
Aku menarik
nafas lega.
Mrs. June
menjerit. Ia mulai memohon. Salah satu anaknya berlari menembus penjagaan dan
memeluknya, namun itu takkan ada gunanya. Para algojo maju ke depan,
mencampakkan anak itu dan menangkap Mrs. June. Salah seorang mengorok lehernya,
sementara yang lain menancapkan kait ke kakinya dan mengantungnya terbalik.
Darahnya segera mengucur habis, menetes di atas plastik yang melapisi lantai.
Aku menahan nafas ketika instruksi yang baru diberikan oleh para juri.
“Nah,
tuan-tuan.. menu terakhir kita adalah sup ginjal.”
Aku
merinding ketika melihat para algojo merobek perut wanita itu dan memotong
kedua ginjalnya kemudian memberikannya kepada kami. Aku kembali ke mejaku untuk
mempersipkan makanan terpenting dalam hidupku.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar